Etika Manajerial
Beberapa
tahun belakangan ini, berita di saluran TV nasional sepertinya sama semua
isinya. Kalo bukan korupsi, ya demo karyawan yang di PHK. Atau juga berita
pejabat, entah itu di tingkat eselon atau tingkat bawah, aparat negara (polisi
dan tentara) yang terlibat dalam penggunaan obat terlarang, dan lain-lain. Kebanyakan
masalah yang diangkat di berita adalah tentang perilaku atau etika manajerial.
Berdasarkan dari berbagai buku MSDM antara lain: Sunarto, Chuck William,
Stephen Robbins, berikut ini sedikit ulasannya.
Etika
(ethics) adalah keyakinan pribadi seseorang mengenai apakah suatu perilaku,
tindakan atau keputusan adalah benar atau salah. Etika manajemen berbicara
mengenai nilai-nilai yang dianut oleh organisasi sehubungan dengan kegiatan
bisnis yang dijalankannya.
Ada
tiga kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin dalam bukunya yang berjudul
Business :
1. Perilaku
terhadap karyawan
Kategori ini meliputi aspek perekrutan, pemecatan,
kondisi upah dan kerja, serta ruang pribadi dan penghormatan. Pedoman etis dan
hukum mengemukakan bahwa keputusan perekrutan dan pemecatan harus didasarkan
hanya pada kemampuan untuk melakukan pekerjaan. Perilaku yang secara umum
dianggap tidak etis dalam kategori ini misalnya mengurangi upah pekerja karena
tahu pekerja itu tidak bisa mengeluh lantaran takut kehilangan pekerjaannya.
2. Perilaku
terhadap organisasi
Permasalahan etika juga terjadi dalam hubungan
pekerja dengan organisasinya. Masalah yang terjadi terutama menyangkut tentang
kejujuran, konflik kepentingan, dan kerahasiaan. Masalah kejujuran yang sering
terjadi di antaranya menggelembungkan anggaran atau mencuri barang milik
perusahaan. Konflik kepentingan terjadi ketika seorang individu melakukan
tindakan untuk menguntungkan diri sendiri, namun merugikan atasannya. Misalnya,
menerima suap Sementara itu, masalah pelanggaran etika yang berhubungan dengan
kerahasiaan di antaranya menjual atau membocorkan rahasia perusahaan kepada
pihak lain.
3. Perilaku
terhadap agen ekonomi lainnya
Seorang manajer juga harus menjalankan etika ketika
berhubungan dengan agen-agen ekonomi lain—seperti pelanggan, pesaing, pemegang
saham, pemasok, distributor, dan serikat buruh.
Berikut
adalah beberapa isu seputar etika, antara lain:
1. Penggunaan
obat-obat terlarang
2. Pencurian
oleh para pekerja (korupsi)
3. Konflik
kepentingan,
4. Pengawasan
kualitas (quality control)
5. Penyalahgunaan
informasi yang bersifat rahasia
6. Penyelewengan
dalam pencatatan keuangan
7. Penyalahgunaan
penggunaan aset perusahaan
8. Pemecatan
tenaga kerja
9. Polusi
lingkunga
10. Cara
bersaing dari perusahaan yang dianggap tidak etis
11. Penggunaan
pekerja di bawah umur
12. Pemberian
hadiah kepada pihak-pihak tertentu yang terkait dengan pemegang kebijakan.
Pembuatan Keputusan Etis
Didorong
oleh sebagian peningkatan keprihatinan terhadap skandal etika dalam bisnis dan
sebagian lagi oleh peningkatan kesadaran perusahaan mengenai pentingnya
perilaku etis, banyak organisasi telah menekankan kembali perilaku etis pada
diri karyawan. Penekanan ini dapat berupa berbagai macam bentuk, tetapi
perilaku etis harus dimulai dari manajer puncak.
Prinsip
dalam pembuatan keputusan etis meliputi :
1. Pendekatan
manfaat, harus menghasilkan kebaikan terbesar bagi banyak pihak.
2. Pendekatan
individualisme mendukung kepentingan jangka panjang dan mengara
kebaikan yang
lebih besar.
3. Pendekatan
hak-hak moral tidak melanggar hak asasi dari mereka yang dipengaruhi oleh
keputusan-keputusan tsb.
4, Pendekatan keadilan:
Didasarkan pada standar keadilan, kewajaran dan sikap tidak
memihak.
Penyimpangan Di Tempat Kerja
Penyimpangan
di tempat kerja adalah perilaku tidak etis yang melanggar norma-norma
organisasi mengenai benar atau salah. Terdapat 4 jenis penyimpangan di tempat
kerja, antara lain:
a. Penyimpangan
produksi
Perilaku
tidak etis dengan merusak mutu dan jumlah hasil produksi. Misalnya: pulang
lebih awal, beristirahat lebih lama, sengaja bekerja lamban, sengaja
membuang-buang sumber daya.
b. Penyimpangan
hak milik.
Perilaku
tidak etis terhadap harta milik perusahaan. Misalnya: menyabot, mencuri atau
merusak peralatan, mengenakan tarif jasa yang lebih tinggi dan mengambil
kelebihannya, menipu jumlah jam kerja, mencuri dari perusahaan lain.
c. Penyimpangan
politik
Yaitu
menggunakan pengaruh seseorang untuk merugikan orang lain dalam perusahaan.
Misalnya: mengambil keputusan berdasarkan pilih kasih dan bukan kinerja,
menyebarkan kabar burung tentang rekan kerja, menuduh orang lain atas kesalahan
yang tidak dibuat.
d. Penyerangan
pribadi
Merupakan sikap
bermusuhan atau perilaku menyerang terhadap orang lain. Seperti: pelecehan
seksual, perkataan kasar, mencuri dari rekan kerja, mengancam rekan kerja
secara pribadi.
Mendorong Pelaksanaan Etika Dalam Manajemen
Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan sehubungan dengan dorongan
untuk melaksanakan etika dalam manajemen, antara lain :
a. Pelatihan
etika (ethics training)
Adanya
pembiasaan yang diberlakukan keada para pelaku organisasi, dari mulai level tertinggi
sampai terendah. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai jenis pelatihan yang
menyangkut etika dan keterkaitannya dengan perwujudan lingkungan sosial yang
lebih baik.
b. Advokasi
etika (Ethical Advocates)
Yaitu
upaya perusahaan menjalankan etika dalam kegiatannya dengan cara menempatkan
orang atau tim khusus dalam tim manajemen perusahaan yang bertugas untuk
mengontrol dan mengawasi segala kegiatan perusahaan agar tetap memenuhi standar
etika.
c. Kode
etik (Code of Ethics)
Kode etik
merupakan standar aturan mengenai etika yang harus dijalankan oleh perusahaan.
Contoh: Perusahaan Xerox menetapkan aturan bahwa perusahaan akan melakukan
kejujuran terhadap pelanggan, tidak akan memberikan sogokan, tidak akan
merahasiakan sesuatu terhadap konsumen, tidak akan melakukan penipuan yang
terkait dengan harga.
Referensi
:
http://blog.stie-mce.ac.id/rina/2011/11/14/etika-manajerial/
Comments
Post a Comment